Wednesday, February 19, 2014

Geng Motor dan kegagalan Reformasi

Kebebasan itu bukan hanya suatu hak, hak berkumpul, hak menyampaikan pendapat, hak mencari nafkah dan hak-hak lainnya, kebabasan juga di batasi degan kewajiban, suatu kewajiban yang mewajibkan kita untuk menjaga dan melindungi hak dasar orang atau pihak lain. Reformasi sudah memberikan kita hak-hak itu, ratusan bahkan ribuan aktivis, baik yang tulus, yang gadungan, yang bajingan, menyerukan hak asas kebebasan tersebut secara sepihak, bias dan tidak mendasar pada esensi atas kebebasan sebagai komponen dari hak dan kewajiban, akhirnya bangsa ini sudah mengarah kepada bangsa tidak berhukum, semua orang merasa punya hak dan tidak punya kewajiban, banyak dari kita bisa berbuat semaunya tanpa memikirkan konsekwensi maupun akibat yang diderita pihak lain.

Baru saja saya membaca berita tentang sebuah "genk motor" yang menamakan dirinya "Genk Amerika" yang membuat onar didaerah Pondok Gede dan sekitarnya, daerah rumah saya dan rumah orang tua saya. entah apa yang membuat mereka menamakan dirinya Genk Amerika, apa mereka merasa diri mereka Koboi pada jaman lawless di western amerika pada masa itu yang bebas membunuh, merampok dan mencuri tanpa harus takut untuk di buru dan di tangkap selama mereka masih dalam satu genk dan unit mereka?, mungkin juga alasannya lebih pragmatis seperti supaya terdengar lebih keren dan lebih modern, akan tetapi kondisi seperti di gambarkan diatas terlihat sama dengan kondisi sekarang. yah betul, Indonesi mungkin sudah kembali ke jaman koboi, jaman belum mengenal, hak asasi manusia, jaman belum mengenal supermasi hukum, jaman nyawa tidak ada harganya. reformasi sudah membawa Indonesia ke 100 tahun sebelum proklamasi kemrdekaanya.

Para remaja tanggung itu dengan bebas dan tidak tersentuh hukum  melakukan penjarahan, perampokan, penganiyaan sesuka mereka, Polisi hanya bisa menonton dan melakukan hal yang mereka sangat mahir melakukannya. memeras korban kejahatan, bermacam-macam lah alasannya, ya butuh uang buat tinta printer untuk print laporan lah, untuk pulsa koordinasi lah, untuk bensin, rokok, jaga petugas dll, bagi yang pernah buat laporan pasti pernah merasakannya, yangjelas para begundal kecil itu tetap dengan bebas melakukannya.

Polri kini memang tidak punya gigi untuk melakukan tugas dan kewajibannya. setelah 32 tahun di mandori dan di arahkan oleh otoritas yang lebih tinggi dalam menciptakan stabilitas, kini instansi ini bergerak bebas dengan sendirinya menetukan kebijakan instansinya. mereka habiskan ber triliyun-triliyun untuk memburu teroris, namun membiarkan jutaan warga Negara yang taat dibunuh, dirampok, dianyaya tanpa datangnya satu keadilan. Polisi Republik Indonesa kini bertindak  seperti centeng dan opas jaman penjajahan dulu yang hanya melindungi yangkua dan membiarkan warga saling bunuh selama tidak mengganggu kepentingan mereka. Pertanyaan mendasar dan terbesar adalah apakah kita perlu TNI dan Intelejennya untuk membasmi geng penjahat anak umur 15-20an tahun ini?? kalo menerut saya PERLU.

Reformsi dengan demokrasi dan kebebasan berlebihannya tidak membwa kemakmuran bagi rakyatnya, ia hanya menjadi sebuah ladang yang sangat subur buat para pembuat onar, penjahat kambuhan, penjahat baru, koruptor, korporasi jahat dan diktator-diktator kecil yang merusak, membuat onar dan membangkrutkan Negara. Reformasi sudah memtong otoritas Negara dalam membangun stabilitas dan ketertiban di Tanah Air kita ini.

Para Agen asing dengan lebel pembawan demorasi dan HAM telah meletakkan kita dalam kondisi tidak aman, sampai kapan kita akan menanggung derita akibat segelintir bajingan dengan toa besar membully kita dengan kebabasan semu versi mereka.

"Celaka besarlah bagi orang-orang yang curang, orang-orang yang menerima takaran dari orang lain minta di penuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi (QS Al Mutafifin 1-3)

Thursday, October 17, 2013

di bawah atap daun rumbia

Jakarta, 17 Oktober 2013

Pegal di badan ini masih sangat terasa, 13 jam perjalanan kami tempuh dari tempat masa kecil ayahanda hinga rumah kami di Pondok Gede, dengan berbagai macam moda angkutan. pengalaman yang indah dan sangat melelahkan telah kami jalani penuh dengan ilmu dan pembelajaran dari alam dan kesederhanaan masyarakat Singkil.

Malam itu kami tibu pukul 8 malam, setelah huru hara subuh hari di check in counter Lion air yang di penuhi oleh orang marah-marah dan teriak-teriak, delay pesawat 1 jam, sampai ke kuala namu international airport, jalur medan, kabanjahe, dairi subusalam singkil yang berkelok dan naik turun menembus bukit barisan sampailah kita di Rimo, Kabupaten Aceh Singkil suatu daerah di propinsi NAD yang bersama dengan subusalam, gayo alas, adalah anak tiri dari provinsi NAD, karena kami adalah daerah yang memiliki akar kebudayaan yang beda dengan bangsa Aceh dan juga bukan lah daerah yang mendukung gerakan Aceh merdeka, oleh sebab itu kecintaan kami akan NKRI membuat kami di deskriditkan dari pembangunan di propinsi NAD.

Hal tentang penganak tirian oleh PemProp Aceh membuat dorongan untung pemekaran propinsi kian menguat tapi sepertinya orang singkil - subusalam harus berkorban sekali lagi karena atas dasar Perundingan Perdamaian dan MOU aceh tak boleh di mekarkan, walaupun daerah kami tetap terus miskin dan tertinggal. berkorban dan ditinggalkan. itulah yang aku rasakan pada hari pertama kedatangan kita yang diisi dengan orasi politik para bupati, walikota dan anggota MPR. ketidak adilan di tengah pembangunan.

Namun Singkil tak perlu berkecil hati. saat menemani ayahanda bertemu dengan kerabatnya Tonga Manaf atau istilah dari anak Tengah Manaf, salah satu ulama tradisional penerus perjuangan Ulama Sufi Abdurauf as singkili hati ku terbelalak. sebuah pesantren yang dia kelola berupa bangunan marabahan besar, 2 buah bangunan panggung terbuka untuk kelas dan 2 bangunan asrama putra putri ukuran sedang, dimana bangunan tersebut 80 persen berdiri diatas kayu dan papan bekas, hanya beberapa papan untuk bagian pentinglah yang dibeli dari sumbangan donatur, sebuah komplek barang bekas yang bertujuan menmpung anak-anak yang tidak mampu mendapatkan pendidikan formal untuk belajar sesuatu, agar mereka tidak dibodohi dan di gilas kejamnya roda globalisasi, gudang ilmu yang dibangun oleh orang kurang mampu dari sisi keuangan namum lebih dari mampu untuk suatu tekad dan keluhuran. (jika ingin menjadi donator silahkan hubungi saya ya)

Lalu kemandirian masyarakat local kembali aku lihat. di desa Rantau Gadang tempat kelahiran Angku  ku yang terletak di pedalaman dan di tepi sungai aku melihat bagaimana alam menyediakan semua kebutuhan hidup, dari pohon rumbia yang menyediakan sagu untuk makanan dan daunnya dijadikan atap rumah, ikan dari sungai, bebek dan telurnya untuk dijual dan kayu untuk di buatkan perahu dan sampan. soal kecerdasan daerah yang baru beberapa tahun terakhir ini merasakan listrik itu sudah memiliki beberapa anak yang direkrut oleh Yohanes Surya untuk sekolahnya.

Aku merasakan sagu panggang dan kuah ikan yang nikmat di bawah atap seng teras rumah kayu. angin sepoi-sepoi berhasil mengalahkan panasnya udara akibat atap seng tersebut, atap rumbia sudah tidak ada digantikan oleh produk industry tersebut, apakah dari cina atau dari mana entahlah, namun atap rumbia buatan local sudah dimusihi pembuat kebijakan di singkil yang menginginkan tiada lagi rumah atap rumbia di singkil, terlepas sebenarnya itu adalah sebuah warisan local turun temurun untuk menyejukan rumah.

Musuh berikutnya adalah Kapitalisasi Perkebunan Sawit, tidak seperti generasi pertama perkebunan sawit pada masa penjajahan dan awal kemerdekaan yang membangun daerahnya serta sumber daya manusianya, kapitalisasi perkebunan sekarang benar benar rakus dan luar biasa, satu perusahaan memegang HGU hingga 40 ribu hektar, mempekerjakan pekerjanya sebagai buruh harian lepas dan tidak ada kontribusi nyata dalam pengembangan masyarakat, tetai hampir seluruh luas kabupaten di kuasai mereka, tumbuhan masyarakat penunjang kebutuhan masyarakat seperti rumbia, damli tergerus oleh sawit tanpa kompensasi yang sesuai. mayarakat di biarkan miskin dan tak diberikan akses untuk memperbaiki diri. keuntungan dari sawit tersebut mengalir deras ke Malaysia dan Jakarta namun daerah termarjinalkan.

Bangsa ini akan tetap jauh dari kemakmuran apabila kita menyerah dalam kekuatan kapitalisasi sumberdaya oleh segilintir oligarki ekonomi. jalur jihadku sudah terbentuk, semoga tuhan memberikan tekadku langkah nyata seperti pesantren miskin tonga manaf, membantu daerah dan masyarakatnya sejahtera, maju dengan keadilan.

sebuah impian melihat kemakmuran dan kesejahteraan di kampungku di bawah sejuknya atap rumbia.



Wednesday, September 21, 2011

To My Son

Hatala Bagaskara Bevan Ramon.

You have light my life
Rise and shine warrior of sun
show the world who you realy are
inspire them with the power on you

Hatala Bagaskara Bevan Ramon

The world may fool you around
They may hit you hard
They may let you down
But you have to rise and rise again until the dark become light

Hatala Bagaskara Bevan Ramon

And when you are shining you have to remember
The shine is not yours only and You have RESPONSIBILTY to light around you
Protect them from the unknown and the darkness
and dont to proud cause it will burn you and other

My Son,

Never ask something you dont owe
just remember when you deservet it it yours ,, just dont ask
you deserve it trough hard work and attitude
And never take something that not belong to you.

My Baby,

Dont forget to have fun
Bring Happines to you and arround you
fill you life with love and joy
but never hurt some one in you persuit of happines

I love You, your mom love you, your family love you...
Reply the same...

Ketika Sekolah Kehilangan WIbawanya

Alhamdulillah telah lahir anak pertama saya, Hatala Bagaskara Bevan Ramon, suatu pemberian Manis dari tuhan yang telah menyinari hidup saya dan istri tercinta, baru hampir 3 bulan umur bevan tapi saya sudah berpikir jauh untuk pendidikannya. saya sadar bahwa pendidikan adalah suatu kunci penting untuk masa depannya jadi wajarlah kalau saya mau yang terbaik bagi nya. sebagai contoh pentingnya pendidikan, kemerdekaan yang kita miliki kini adalah buah manis dari sebuah pendidikan, Politik Etis yang diterapkan belanda sebagai "kompensasi kecil" atas penjajahan yang mereka lakukan melahirka orang-orang yang berpendidikan, sedikit memang jumlahnya namun meletuskan suatu gerakan yang berujung kepada Indonesia Merdeka, sesuatu yang tidak mungkin dilakukan ratusan tahun sebelumnya.

namun saya kini cemas melihat pemberitaan yang terjadi. terutama Headline SMA 6 VS Wartawan. im not a big fans of wartawan, bagi saya mereka hanya salah satu profesi oportunis yang berlindung dibalik assosiasi profesi, namun saya sadar, everybody must make a living, termasuk rekan-rekan wartawan yang dalam banyak kasus banyak juga menyulitkan namun tetap kami berkawan.

yang saya soroti adalah Intitusi Pendidikan secara keseluruhan. pertanyaan pertama. kenapa Tawuran SMA 6 dan 70 terus terjadi, berikut opini saya apa yang kira-kira terjadi
1. Guru merasa tugas dia adalah menulis di papan, mendikte teori, memberikan pertanyaan, tugas, PR serta yang paling penting melahirkan Passing Grade yang tinggi untuk UAN. thats it.
2. Institusi sekolah yang sudah seperti korps yang ingin menunjukan superioritas institusi jangka pendek tanpa menanamkan Value yang lebih dalam sebagai bekal mengarungi kehidupan di masa depan. seperti semangat kerja keras, nilai-nilai kebaikan, tolerasi dan kemandirian.
3. guru takluk oleh kekuatan ekonomi dalam hal ini ketakutan karena tekanan orang tua murid.
4. karena ketakutan guru akan ortu murid (yang memiliki power) mengakibatkan siswa menjadi arogan, sok kuasa, dll sehingga mereka bertingkah semaunya.
5. orang tua yang ngga bertanggung jawab terhadap anaknya sendiri.

dari bermacam-macam peristiwa ini lahirlah situasi yang membuat siswa ini besar kepala, dan layaknya manusia yang besar kepala maunya menunjukan pada dunia kalau dia punya kuasa, tanpa mengindahkan peraturan dan merasa bisa mengakali hukuman, mereka menujukan dengan tawuran, hal sepele di besar-besarkan, kekerasan di jadikan tujuan, akal sehat sengaja ditumpulkan.

jaman saya dulu kalo ketawaan tawuran akan langsung di pecat sebagai siswa, kalo sekarang harus nunggu masuk video atau youtube baru di keluarkan, ketika essensi dikalahkan citra maka lahirlah politik pilih kasih dan bela membela.

Tawuran itu sudah salah, sanksinya sudah jelas, hati nurani meraka sudah tumpul, nyali mereka untuk man to man udah tidak punya, apa lagi ditambah perampasan dan pengeroyokan, sudah selayaknya mereka di berhentikan dan dihadapkan ke muka hukum, karena proses hukuman adalah bagian dari proses pendidikan agar semua siswa tau bahwa di balik akibat ada sebab.

tapi yang kita lihat sekarang mereka malah di bela di lindungi, dicarikan alasan Pembenar dan essensi pendidikannya dilupakan. jangan biarkan mereka beranggapan mereka bisa mengakali hukuman, sekali mereka berhasil mereka akan berusaha mencoba lagi.

apabila Bevan adalah Gilang Perdana maka yang paling bersalah adalah saya dan istri. baru Institusi pendidikannya. anak adalah produk kita, produk guru mereka, produk lingkungan kita, namun kita yang akan menggung hidup mereka seumur hidup kita maka penting bagi kita untuk melindungi dan mendidik mereka.

Sekolah harus bebas dari tekanan, dan orang tua harus berperan aktif dalam membibing anak, sebuah mahakarya tidak lahir instant, semua harus di proses dengan baik dan benar, warisan terbesar untuk anak adalah ilmu dan kebijaksanaan, dan warisan terbesar untuk dunia adalah putra putri yang berilmu dan bijaksana.

jangan biarkan sekolah kehilangan wibawanya

Monday, February 21, 2011

Selamat Sore Indonesia...

di tengah perpolitikan yang carut marut dengan bakal bubarnya setgab, PSSI dengan 2 dajjalnya, demonstrasi beruntun di timur tengah dan daerah lain, serta di tengah hamilnya istri saya... saya kembali menggoyang blog Ibukota.

karena ajang curhat saya di twitter melalui Ubertwitter sudah di suspend, maka saya kembali ke blog saya yang sudah lama saya tinggalkan.

sudah banyak yang berlalu sejak saya terakhir nulis, mulai dari pernikahan, bulan madu, fight and make up, kehamilan dan lain-lain. namun saya masih ragu apakah segala turmoil yang saya alami membuat saya semakin dewasa, rasa galau jelas menghampiri hidupku sekarang. ke tidak jelasan akan masa depan membuat misterinya makin menyesakan.

bagaimana pun juga kita sudah tidak bisa me reset hidup kita, yang ada hannya adalah masa depan yang harus kita hadapi... tak ada gunanya kita menyesali masa lalu dan masa kini... yang harus kita lakukan adalah mengambil hikmah dari masa lalu yang akan membuat kita bisa belajar...

que sera sera.. what ever will be will be... the future is not for us to see...

Tuesday, September 7, 2010

last day in LCI (email notification to all employee)

Semuanya

Tiba Juga saatnya untuk mengucapkan kata-kata perpisahaan di hari terakhir saya bekerja di LCI. walaupun saya akan terbebas dari beberapa hal yang tidak saya suka seperti bangun pagi (walaupun saya selalu terlambat), sinyal telephone yang buruk, dll, akan tetapi saya akan sangat merindukan banyak hal baik saya temui disini, Pekerjaannya, perusahaannya, gajinya setiap bulan (of course), Iga bakar pangan sari dan menu enak lainnya (yang membuat saya cholesterol) dan paling penting dan terutama adalah teman-teman saya disini. saya banyak menemui orang-orang hebat disini.. orang yang baik…. teman-teman yang bekerja sama dan saling membantu. banyak sudah bantuan dan dorongan positif yang saya terima disini yang membuat saya menjadi orang yang lebih baik. oleh karena itu saya ucapkan terima kasih buat teman-teman sekalian.

tidak lupa saya memohon maaf kepada semua teman-teman yang ada disini karena saya tau saya banyak sekali mengucapkan kata-kata, melakukan perbuatan-perbuatan, dan menunjukan sikap-sikap yang tidak pantas dan berkenan. oleh sebab itu mohon bukakan pintu maaf sebesar-besarnya.

saya bisa di hubungi melalui Email pribadi saya di yudharamon@yahoo.com dan yudharamon@gmail.com nomer telephone 081348500181

sekali lagi saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya dan sampai jumpa lagi!!!

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dear All

if you cant understant what I wrote above than you have to learn your bahasa Indonesia again hehehehe. itu will bring you goodness and respect among the indonesian (the PIT inspector ussually give pass at POP exam for expate who can speak basic indonesia).

well anyway, this is my last day in this great company dou to the reason fulfil my boss (read: wife) wishes and persue my carier in another field (well I hope it will works). for that I would like to Thank you very much for every assist and help that I receive while I'm working here, and I would like appoligize for every wrong word and misconduct that I done here. I hope we can still communicate and maintain good relation. you can contact me trough my personal email at yudharamon@yahoo.com or yudharamon@gmail.com Phone number 081348500181

thank you again and see you !!


PS: Please consider the environment before you print this email
Regards,Yudha Ramon HR IR/ER Superintendent - Wahana Coal Mine Project
PT. Leighton Contractors Indonesia t: +62 21 3000 2360 f: +62 21 3000 2359 m: +62 811 500 9351 e: yudha.ramon@leighton.co.id JL Propinsi Km 165, Desa Sunga Cuka RT.01 No.77, Kec. Satui, Kab. Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan 72175, Indonesia.www.leightonasia.com

Strive for L-I-F-E Leighton - Incident - Free - Environment

Thursday, September 2, 2010

Viva La Revolusione....

Viva La Revolusione....

Sebuah Slogan perjuangan yang sering di dengungkan oleh para aktivis.. terutama aktivis kiri.. kalo di inget jaman awal kuliah dulu saya melihat banyak kaos bertuliskan slogan itu di tempel sama photo seorang yang namanya Che Guevara, Dokter asa argentina, Mentri di Cuba dan mati di hutan Bolivia. yups beliau merupakan tokoh sentral perjuangan revolusi kuba. berjuang di bawah komando Fidel Castro, Presiden Kuba sampai saat ini.

Fidel Castro sendiri merupakan salah satu tokoh revolusioner. hanya berawal dari kekuatannya di bawah 100 orang, Fidel berhasil menggerakan revolusi rakyat menentang rezim berkuasa, dan dia berhasil. Tokoh Revolusioner yang lain yang tidak kalah fenomenal adalah Spartacus. dari seorang budak Gladiator, menggerakan semangat anti perbudakan yang saat itu melanda bangsa Roma. Spartacus dengan 70 anggota gladiator memberontak dan melarikan diri, dalam perjalanannya dia berhasil mengumpulkan lebih dari 40.000 pengikut dan beberapa kali melumpuhkan pasukan Roma hingga dia dikalahkan dan terbunuh. semangat Kebebasan yang di dengungkannya mengaum lebih keras hingga saat ini dibandingkan kekalahan dan kematiannya.

Masih banyak tokoh Revolusioner lainnya. namun bagi orang Islam tidak ada tokoh yang lebih di segani dan di kagumi selain Nabi Muhammad SAW. beliau orang yang berhasil merubah wajah dunia hingga terbentuk seperti sekarang, ajarannya dan nilai ideologi yang dibawanya masih di anut oleh miliyaran manusia yang beragama Islam dan bertahan selama 1400 an tahun. sebuah perjuangan revolusi selama 23 tahun yang tidak hanya mendobrak sistem pemerintahan, tapi juga kebiasaan dan keyakinan.

di dalam negeri Revolusi juga sering terjadi. tapi bila kita mendengar kata Revolusi maka kita akan teringat dengan peristiwa G 30 S / PKI tahun 65. sebenarya hal itu hanya merupakan kebijakan psikologis yang di terapkan oleh Pemerintahan Orde baru untuk menegaskan bahwa Revolusi adalah hal yang buruk yang hanya menghasilkan kematian, agar rakyat berpikir untuk tidak melakukan lagi yang namanya revolusi dimasa yang akan datang, sehingga kita lupa bahwa kita mendapatkan kemerdekaan adalah dengan cara revolusi bersenjata yang di lakukan oleh para pejuang dan pahlawan kemerdekaan.

Apa sih Revolusi itu? berdasrkan pemahaman saya Revolusi adalah suatu perubahan yang terjadi dalam waktu cepat. jangan bayangkan cepat itu terjadi dalam waktu 1 atau 2 detik akan tetapi tahunan, lawan kata dari revolusi adalah Evolusi. evolusi adalah perubahan yang erjadi dalam waktu lama, bisa ratusan, ribuan bahkan Jutaan tahun. sehingga istilah Evolusi banyak di pakai untuk istilah limu pasti dan revolusi dalam istilah perjuangan/pergerakan/sejarah.

seperti perubahan dan pergerakan lainnya, pasti ada suatu bahan bakan maupun dasar yang mendasari perubahan tersebut. dan menurut saya hal tersebut adalah Ide... pemikiran... Niat... sesuatu yang menggerakan suatu kondisi menjadi kondisi lain. ide ini bukan sembarang ide. tetapi ide yang timbul dari situasi yang ada berkembang menjadi bagai mana yang seharusnya terjadi kemudian di susul dengan bagaimana cara dari satu kondisi ini bisa menjadi kondisi yang di inginkan, dan itu akhirnya bergerak dari sebuah ide menjadi keyakinan dan keyakinan itu berubah menjadi suatu keyakinan yang pantas di perjuangkan walau nyawa taruhannya. dan ketika wabah keyakinan itu mulai merebak ke setiap kalangan dan mereka berpikiran yang sama, maka ide tersebut berubah menjadi sebuah pergerakan dan perjuangan. dan yakin lah selama ide dan keyakinan tersebut tidak melenceng dari rasio para pelakunya maka api semangat akan perubahan tersebut akan terus menyala walaupun para pelakunya sudah mati dibunuh oleh penguasa lalim karena seperti kata tokoh V dalan V for Vendeta, "di dalam tubuh ini tidak hanya ada darah dan daging, di dalam tubuh ini juga terdapat Ide, dan Ide itu Kebal Peluru".

Viva la revolusione.... and i guess this country need it one more time