Pegal di badan ini masih sangat terasa, 13 jam perjalanan kami tempuh dari tempat masa kecil ayahanda hinga rumah kami di Pondok Gede, dengan berbagai macam moda angkutan. pengalaman yang indah dan sangat melelahkan telah kami jalani penuh dengan ilmu dan pembelajaran dari alam dan kesederhanaan masyarakat Singkil.Malam itu kami tibu pukul 8 malam, setelah huru hara subuh hari di check in counter Lion air yang di penuhi oleh orang marah-marah dan teriak-teriak, delay pesawat 1 jam, sampai ke kuala namu international airport, jalur medan, kabanjahe, dairi subusalam singkil yang berkelok dan naik turun menembus bukit barisan sampailah kita di Rimo, Kabupaten Aceh Singkil suatu daerah di propinsi NAD yang bersama dengan subusalam, gayo alas, adalah anak tiri dari provinsi NAD, karena kami adalah daerah yang memiliki akar kebudayaan yang beda dengan bangsa Aceh dan juga bukan lah daerah yang mendukung gerakan Aceh merdeka, oleh sebab itu kecintaan kami akan NKRI membuat kami di deskriditkan dari pembangunan di propinsi NAD.
Hal tentang penganak tirian oleh PemProp Aceh membuat dorongan untung pemekaran propinsi kian menguat tapi sepertinya orang singkil - subusalam harus berkorban sekali lagi karena atas dasar Perundingan Perdamaian dan MOU aceh tak boleh di mekarkan, walaupun daerah kami tetap terus miskin dan tertinggal. berkorban dan ditinggalkan. itulah yang aku rasakan pada hari pertama kedatangan kita yang diisi dengan orasi politik para bupati, walikota dan anggota MPR. ketidak adilan di tengah pembangunan.
Namun Singkil tak perlu berkecil hati. saat menemani ayahanda bertemu dengan kerabatnya Tonga Manaf atau istilah dari anak Tengah Manaf, salah satu ulama tradisional penerus perjuangan Ulama Sufi Abdurauf as singkili hati ku terbelalak. sebuah pesantren yang dia kelola berupa bangunan marabahan besar, 2 buah bangunan panggung terbuka untuk kelas dan 2 bangunan asrama putra putri ukuran sedang, dimana bangunan tersebut 80 persen berdiri diatas kayu dan papan bekas, hanya beberapa papan untuk bagian pentinglah yang dibeli dari sumbangan donatur, sebuah komplek barang bekas yang bertujuan menmpung anak-anak yang tidak mampu mendapatkan pendidikan formal untuk belajar sesuatu, agar mereka tidak dibodohi dan di gilas kejamnya roda globalisasi, gudang ilmu yang dibangun oleh orang kurang mampu dari sisi keuangan namum lebih dari mampu untuk suatu tekad dan keluhuran. (jika ingin menjadi donator silahkan hubungi saya ya)Lalu kemandirian masyarakat local kembali aku lihat. di desa Rantau Gadang tempat kelahiran Angku ku yang terletak di pedalaman dan di tepi sungai aku melihat bagaimana alam menyediakan semua kebutuhan hidup, dari pohon rumbia yang menyediakan sagu untuk makanan dan daunnya dijadikan atap rumah, ikan dari sungai, bebek dan telurnya untuk dijual dan kayu untuk di buatkan perahu dan sampan. soal kecerdasan daerah yang baru beberapa tahun terakhir ini merasakan listrik itu sudah memiliki beberapa anak yang direkrut oleh Yohanes Surya untuk sekolahnya.
Aku merasakan sagu panggang dan kuah ikan yang nikmat di bawah atap seng teras rumah kayu. angin sepoi-sepoi berhasil mengalahkan panasnya udara akibat atap seng tersebut, atap rumbia sudah tidak ada digantikan oleh produk industry tersebut, apakah dari cina atau dari mana entahlah, namun atap rumbia buatan local sudah dimusihi pembuat kebijakan di singkil yang menginginkan tiada lagi rumah atap rumbia di singkil, terlepas sebenarnya itu adalah sebuah warisan local turun temurun untuk menyejukan rumah.Musuh berikutnya adalah Kapitalisasi Perkebunan Sawit, tidak seperti generasi pertama perkebunan sawit pada masa penjajahan dan awal kemerdekaan yang membangun daerahnya serta sumber daya manusianya, kapitalisasi perkebunan sekarang benar benar rakus dan luar biasa, satu perusahaan memegang HGU hingga 40 ribu hektar, mempekerjakan pekerjanya sebagai buruh harian lepas dan tidak ada kontribusi nyata dalam pengembangan masyarakat, tetai hampir seluruh luas kabupaten di kuasai mereka, tumbuhan masyarakat penunjang kebutuhan masyarakat seperti rumbia, damli tergerus oleh sawit tanpa kompensasi yang sesuai. mayarakat di biarkan miskin dan tak diberikan akses untuk memperbaiki diri. keuntungan dari sawit tersebut mengalir deras ke Malaysia dan Jakarta namun daerah termarjinalkan.
Bangsa ini akan tetap jauh dari kemakmuran apabila kita menyerah dalam kekuatan kapitalisasi sumberdaya oleh segilintir oligarki ekonomi. jalur jihadku sudah terbentuk, semoga tuhan memberikan tekadku langkah nyata seperti pesantren miskin tonga manaf, membantu daerah dan masyarakatnya sejahtera, maju dengan keadilan. sebuah impian melihat kemakmuran dan kesejahteraan di kampungku di bawah sejuknya atap rumbia.
No comments:
Post a Comment