Alhamdulillah telah lahir anak pertama saya, Hatala Bagaskara Bevan Ramon, suatu pemberian Manis dari tuhan yang telah menyinari hidup saya dan istri tercinta, baru hampir 3 bulan umur bevan tapi saya sudah berpikir jauh untuk pendidikannya. saya sadar bahwa pendidikan adalah suatu kunci penting untuk masa depannya jadi wajarlah kalau saya mau yang terbaik bagi nya. sebagai contoh pentingnya pendidikan, kemerdekaan yang kita miliki kini adalah buah manis dari sebuah pendidikan, Politik Etis yang diterapkan belanda sebagai "kompensasi kecil" atas penjajahan yang mereka lakukan melahirka orang-orang yang berpendidikan, sedikit memang jumlahnya namun meletuskan suatu gerakan yang berujung kepada Indonesia Merdeka, sesuatu yang tidak mungkin dilakukan ratusan tahun sebelumnya.
namun saya kini cemas melihat pemberitaan yang terjadi. terutama Headline SMA 6 VS Wartawan. im not a big fans of wartawan, bagi saya mereka hanya salah satu profesi oportunis yang berlindung dibalik assosiasi profesi, namun saya sadar, everybody must make a living, termasuk rekan-rekan wartawan yang dalam banyak kasus banyak juga menyulitkan namun tetap kami berkawan.
yang saya soroti adalah Intitusi Pendidikan secara keseluruhan. pertanyaan pertama. kenapa Tawuran SMA 6 dan 70 terus terjadi, berikut opini saya apa yang kira-kira terjadi
1. Guru merasa tugas dia adalah menulis di papan, mendikte teori, memberikan pertanyaan, tugas, PR serta yang paling penting melahirkan Passing Grade yang tinggi untuk UAN. thats it.
2. Institusi sekolah yang sudah seperti korps yang ingin menunjukan superioritas institusi jangka pendek tanpa menanamkan Value yang lebih dalam sebagai bekal mengarungi kehidupan di masa depan. seperti semangat kerja keras, nilai-nilai kebaikan, tolerasi dan kemandirian.
3. guru takluk oleh kekuatan ekonomi dalam hal ini ketakutan karena tekanan orang tua murid.
4. karena ketakutan guru akan ortu murid (yang memiliki power) mengakibatkan siswa menjadi arogan, sok kuasa, dll sehingga mereka bertingkah semaunya.
5. orang tua yang ngga bertanggung jawab terhadap anaknya sendiri.
dari bermacam-macam peristiwa ini lahirlah situasi yang membuat siswa ini besar kepala, dan layaknya manusia yang besar kepala maunya menunjukan pada dunia kalau dia punya kuasa, tanpa mengindahkan peraturan dan merasa bisa mengakali hukuman, mereka menujukan dengan tawuran, hal sepele di besar-besarkan, kekerasan di jadikan tujuan, akal sehat sengaja ditumpulkan.
jaman saya dulu kalo ketawaan tawuran akan langsung di pecat sebagai siswa, kalo sekarang harus nunggu masuk video atau youtube baru di keluarkan, ketika essensi dikalahkan citra maka lahirlah politik pilih kasih dan bela membela.
Tawuran itu sudah salah, sanksinya sudah jelas, hati nurani meraka sudah tumpul, nyali mereka untuk man to man udah tidak punya, apa lagi ditambah perampasan dan pengeroyokan, sudah selayaknya mereka di berhentikan dan dihadapkan ke muka hukum, karena proses hukuman adalah bagian dari proses pendidikan agar semua siswa tau bahwa di balik akibat ada sebab.
tapi yang kita lihat sekarang mereka malah di bela di lindungi, dicarikan alasan Pembenar dan essensi pendidikannya dilupakan. jangan biarkan mereka beranggapan mereka bisa mengakali hukuman, sekali mereka berhasil mereka akan berusaha mencoba lagi.
apabila Bevan adalah Gilang Perdana maka yang paling bersalah adalah saya dan istri. baru Institusi pendidikannya. anak adalah produk kita, produk guru mereka, produk lingkungan kita, namun kita yang akan menggung hidup mereka seumur hidup kita maka penting bagi kita untuk melindungi dan mendidik mereka.
Sekolah harus bebas dari tekanan, dan orang tua harus berperan aktif dalam membibing anak, sebuah mahakarya tidak lahir instant, semua harus di proses dengan baik dan benar, warisan terbesar untuk anak adalah ilmu dan kebijaksanaan, dan warisan terbesar untuk dunia adalah putra putri yang berilmu dan bijaksana.
jangan biarkan sekolah kehilangan wibawanya
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment